<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Belajar Islam yuk!!!</title>
	<atom:link href="http://islamsuci.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://islamsuci.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sat, 18 Jul 2009 08:52:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='islamsuci.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Belajar Islam yuk!!!</title>
		<link>http://islamsuci.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://islamsuci.wordpress.com/osd.xml" title="Belajar Islam yuk!!!" />
	<atom:link rel='hub' href='http://islamsuci.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Darah Seorang Muslim Karena Pengeboman</title>
		<link>http://islamsuci.wordpress.com/2009/07/18/darah-seorang-muslim-karena-pengeboman/</link>
		<comments>http://islamsuci.wordpress.com/2009/07/18/darah-seorang-muslim-karena-pengeboman/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Jul 2009 08:52:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mudha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[bom]]></category>
		<category><![CDATA[bom jihad]]></category>
		<category><![CDATA[bom syahid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamsuci.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Membunuh seorang muslim adakalanya dengan cara yang dibenarkan dan adakalanya tidak demikian. Membunuh dengan cara yang dibenarkan adalah jika pembunuhan tersebut melalui qishash atau hukuman had. Sedangkan membunuh tidak dengan cara yang benar bisa saja secara sengaja atau pun tidak. Mengenai pembunuhan dengan cara sengaja, Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamsuci.wordpress.com&amp;blog=8551750&amp;post=14&amp;subd=islamsuci&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="msg_0">
<div id="scroll_here">
<div>Membunuh seorang muslim adakalanya dengan cara yang dibenarkan dan adakalanya tidak demikian. Membunuh dengan cara yang dibenarkan adalah jika pembunuhan tersebut melalui qishash atau hukuman had. Sedangkan membunuh tidak dengan cara yang benar bisa saja secara sengaja atau pun tidak.<span id="more-14"></span></p>
<p>Mengenai pembunuhan dengan cara sengaja, Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p>وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا</p>
<p>“Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. An Nisa’: 93)</p>
<p>Begitu pula Allah menyebutkan siksaan yang begitu pedih dan berlipat-lipat dalam firman-Nya,</p>
<p>وَالَّذِينَ لا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا , يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا , إِلا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا</p>
<p>“Dan orang-orang yang tidak menyembah Rabb yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Furqan: 68-70)</p>
<p>Masalah darah adalah masalah yang akan diselesaikan pertama kali di hari perhitungan nanti. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>أَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ فِى الدِّمَاءِ</p>
<p>“Perkara yang pertama kali akan diperhitungkan pada hari kiamat nanti adalah dalam masalah darah.” (HR. Bukhari no. 6864 dan Muslim no. 1678)</p>
<p>Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>« اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ « الشِّرْكُ بِاللَّهِ ، وَالسِّحْرُ ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِى حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ، وَأَكْلُ الرِّبَا …</p>
<p>“Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan.” Kemudian ada yang mengatakan, “Wahai Rasulullah, apa dosa-dosa tersebut? ” Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan (di antaranya), “Berbuat syirik, sihir, membunuh jiwa yang Allah haramkan tanpa jalan yang benar, memakan hasil riba &#8230;” (HR. Bukhari no. 6857 dan Muslim no. 89)</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>لزوال الدنيا جميعا أهون على الله من دم يسفك بغير حق</p>
<p>“Musnahnya dunia seluruhnya masih ringan di sisi Allah daripada tertumpahnya darah seseorang tanpa jalan yang benar.” (Shahih At Targib wa At Tarhib no.2438. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih lighoirihi)</p>
<p>Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>لو أن أهل السماء وأهل الأرض اشتركوا في دم مؤمن لأكبهم الله في النار</p>
<p>“Seandainya penduduk langit dan bumi bersekongkol untuk membunuh seorang mukmin, niscaya Allah akan menelungkupkan mereka ke dalam neraka.” (HR. At Tirmidzi. Shahih At Targhib wa At Tarhib no.2442, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih lighoirihi)</p>
<p>Dari ‘Ubadah bin Ash Shoomit, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>من قتل مؤمنا فاغتبط بقتله لم يقبل الله منه صرفا ولا عدلا</p>
<p>“Barangsiapa membunuh seorang mukmin lalu dia bergembira dengan pembunuhan tersebut, maka Allah tidak akan menerima amalan sunnah juga amalan wajibnya.” (HR. Abu Daud. Shahih At Targhib wa At Tarhib no.2450, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Faidhul Qodir Syarh Al Jami’ Ash Shogir, Al Munawi, 6/252)</p>
<p>Adapun untuk pembunuhan terhadap seorang mukmin secara tidak sengaja, maka Allah telah memerintahkan untuk membayar diat dan kafarat. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,</p>
<p>وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلا خَطَأً وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ إِلا أَنْ يَصَّدَّقُوا فَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ عَدُوٍّ لَكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِنَ اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا</p>
<p>“Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tidak sengaja, dan barang siapa membunuh seorang mukmin karena tidak sengaja (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal ia mukmin, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba-sahaya yang mukmin. Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barang siapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara tobat kepada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An Nisaa’: 92)</p>
<p>Penutup</p>
<p>Beberapa tahun yang silam pernah terjadi pengeboman dan perusakan di kota Riyadh, saat itulah Syeikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr angkat suara,</p>
<p>“Alangkah miripnya kata tadi malam dan semalam. Sesungguhnya peristiwa pemboman dan perusakan di kota Riyadh dan senjata-senjata lain yang digunakannya di kota Makkah maupun Madinah pada awal tahun ini (1424 H, sekitar tahun 2003) merupakan hasil rayuan setan yang berupa bentuk meremehkan atau berlebih-lebihan dalam beragama. Sejelek-jeleknya perbuatan yang dihiasi oleh setan adalah yang mengatakan bahwa pengeboman dan perusakan sebagai jihad.</p>
<p>Akal dan agama mana yang menyatakan membunuh jiwa, memerangi kaum muslimin, memerangi orang-orang kafir mu’ahad (yang mengadakan perjanjian dengan kaum muslimin), membuat kekacauan, membuat wanita-wanita menjanda, menyebabkan anak-anak menjadi yatim, dan meluluhlantakkan bermacam bangunan sebagai jihad[?]”</p>
<p>***<br />
Panggang, Gunung Kidul, 25 Rajab 1430 H<br />
Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Website:<br />
<a rel="nofollow" href="http://rumaysho.com/" target="_blank">http://rumaysho.com</a><br />
<a rel="nofollow" href="http://pengusahamuslim.com/" target="_blank">http://pengusahamuslim.com</a><br />
<a rel="nofollow" href="http://muslim.or.id/" target="_blank">http://muslim.or.id</a></div>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamsuci.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamsuci.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamsuci.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamsuci.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamsuci.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamsuci.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamsuci.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamsuci.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamsuci.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamsuci.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamsuci.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamsuci.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamsuci.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamsuci.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamsuci.wordpress.com&amp;blog=8551750&amp;post=14&amp;subd=islamsuci&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamsuci.wordpress.com/2009/07/18/darah-seorang-muslim-karena-pengeboman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b4967719576f5fe3c2e8666c5dd654fb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mudha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ikhlas</title>
		<link>http://islamsuci.wordpress.com/2009/07/14/ikhlas/</link>
		<comments>http://islamsuci.wordpress.com/2009/07/14/ikhlas/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 09:26:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mudha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penyujian Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[hadits niat]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamsuci.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan harus disertai dengan niat. Setiap orang hanya akan mendapatkan balasan tergantung pada niatnya. Barangsiapa yang hijrah karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena menginginkan perkara dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (hanya) mendapatkan apa yang dia inginkan.” (HR. Bukhari [Kitab Bad'i al-Wahyi, hadits no. 1, Kitab al-Aiman wa an-Nudzur, hadits no. 6689] dan Muslim [Kitab al-Imarah, hadits no. 1907]).<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamsuci.wordpress.com&amp;blog=8551750&amp;post=5&amp;subd=islamsuci&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diriwayatkan dari Amir al-Mukminin (pemimpin kaum beriman) Abu Hafsh Umar bin al-Khattab radhiyallahu’anhu beliau mengatakan : Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan harus disertai dengan niat. Setiap orang hanya akan mendapatkan balasan tergantung pada niatnya. Barangsiapa yang hijrah karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena menginginkan perkara dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (hanya) mendapatkan apa yang dia inginkan.” (HR. Bukhari [Kitab Bad'i al-Wahyi, hadits no. 1, Kitab al-Aiman wa an-Nudzur, hadits no. 6689] dan Muslim [Kitab al-Imarah, hadits no. 1907]).<br />
<span id="more-5"></span><br />
Faedah hadits<br />
Hadits yang mulia ini menunjukkan bahwa niat merupakan timbangan penentu kesahihan amal. Apabila niatnya baik, maka amal menjadi baik. Apabila niatnya jelek, amalnya pun menjadi jelek (Syarh Arba’in li an-Nawawi, sebagaimana tercantum dalam ad-Durrah as-Salafiyah, hal. 26).</p>
<p>Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah mengatakan, “Bukhari mengawali kitab Sahihnya [Sahih Bukhari] dengan hadits ini dan dia menempatkannya laiknya sebuah khutbah [pembuka] untuk kitab itu. Dengan hal itu seolah-olah dia ingin menyatakan bahwa segala amal yang dilakukan tidak ikhlas karena ingin mencari wajah Allah maka amal itu akan sia-sia, tidak ada hasilnya baik di dunia maupun di akhirat.” (Jami’ al-’Ulum, hal. 13)</p>
<p>Ibnu as-Sam’ani rahimahullah mengatakan, “Hadits tersebut memberikan faedah bahwa amal-amal non ibadat tidak akan bisa membuahkan pahala kecuali apabila pelakunya meniatkan hal itu dalam rangka mendekatkan diri [kepada Allah]. Seperti contohnya; makan -bisa mendatangkan pahala- apabila diniatkan untuk memperkuat tubuh dalam melaksanakan ketaatan.” (Sebagaimana dinukil oleh al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam Fath al-Bari [1/17]. Lihat penjelasan serupa dalam al-Wajiz fi Idhah Qawa’id al-Fiqh al-Kulliyah, hal. 129, ad-Durrah as-Salafiyah, hal. 39-40)</p>
<p>Ibnu Hajar rahimahullah menerangkan, hadits ini juga merupakan dalil yang menunjukkan tidak bolehnya melakukan suatu amalan sebelum mengetahui hukumnya. Sebab di dalamnya ditegaskan bahwa amalan tidak akan dinilai jika tidak disertai niat [yang benar]. Sementara niat [yang benar] untuk melakukan sesuatu tidak akan benar kecuali setelah mengetahui hukumnya (Fath al-Bari [1/22]).</p>
<p>Macam-macam niat<br />
Istilah niat meliputi dua hal; menyengaja melakukan suatu amalan [niyat al-'amal] dan memaksudkan amal itu untuk tujuan tertentu [niyat al-ma'mul lahu].</p>
<p>Yang dimaksud niyatu al-’amal adalah hendaknya ketika melakukan suatu amal, seseorang menentukan niatnya terlebih dulu untuk membedakan antara satu jenis perbuatan dengan perbuatan yang lain. Misalnya mandi, harus dipertegas di dalam hatinya apakah niatnya untuk mandi biasa ataukah mandi besar. Dengan niat semacam ini akan terbedakan antara perbuatan ibadat dan non-ibadat/adat. Demikian juga, akan terbedakan antara jenis ibadah yang satu dengan jenis ibadah lainnya. Misalnya, ketika mengerjakan shalat [2 raka'at] harus dibedakan di dalam hati antara shalat wajib dengan yang sunnah. Inilah makna niat yang sering disebut dalam kitab-kitab fikih.</p>
<p>Sedangkan niyat al-ma’mul lahu maksudnya adalah hendaknya ketika beramal tidak memiliki tujuan lain kecuali dalam rangka mencari keridhaan Allah, mengharap pahala, dan terdorong oleh kekhawatiran akan hukuman-Nya. Dengan kata lain, amal itu harus ikhlas. Inilah maksud kata niat yang sering disebut dalam kitab aqidah atau penyucian jiwa yang ditulis oleh banyak ulama salaf dan disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalam al-Qur’an, niat semacam ini diungkapkan dengan kata-kata iradah (menghendaki) atau ibtigha’ (mencari). (Diringkas dari keterangan Syaikh as-Sa’di dalam Bahjat al-Qulub al-Abrar, sebagaimana tercantum dalam ad-Durrah as-Salafiyah, hal. 36-37 dengan sedikit penambahan dari Jami’ al-’Ulum oleh Ibnu Rajab hal. 16-17)</p>
<p>Pentingnya Ikhlas<br />
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji kalian; siapakah di antara kalian orang yang terbaik amalnya.” (QS. al-Mulk : 2).</p>
<p>al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah menafsirkan makna ‘yang terbaik amalnya’ yaitu ‘yang paling ikhlas dan paling benar’. Apabila amal itu ikhlas namun tidak benar, maka tidak akan diterima. Begitu pula apabila benar tapi tidak ikhlas, maka juga tidak diterima. Ikhlas yaitu apabila dikerjakan karena Allah. Benar yaitu apabila di atas sunnah/tuntunan (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyat al-Auliya’ [8/95] sebagaimana dinukil dalam Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 50. Lihat pula Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 19)</p>
<p>Pada suatu saat sampai berita kepada Abu Bakar tentang pujian orang-orang terhadap dirinya. Maka beliau pun berdoa kepada Allah, ”Ya Allah. Engkau lah yang lebih mengetahui diriku daripada aku sendiri. Dan aku lebih mengetahui diriku daripada mereka. Oleh sebab itu ya Allah, jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka kira. Dan janganlah Kau siksa aku karena akibat ucapan mereka. Dan ampunilah aku dengan kasih sayang-Mu atas segala sesuatu yang tidak mereka ketahui.” (Kitab Az Zuhd Nu’aim bin Hamad, dinukil dari Ma’alim fi Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 119)</p>
<p>Mutharrif bin Abdullah rahimahullah mengatakan, “Baiknya hati dengan baiknya amalan, sedangkan baiknya amalan dengan baiknya niat.” (Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rajab dalam Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 19). Ibnu al-Mubarak rahimahullah mengatakan, “Betapa banyak amal kecil menjadi besar karena niat. Dan betapa banyak pula amal besar menjadi kecil gara-gara niat.” (Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rajab dalam Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 19)</p>
<p>Seorang ulama yang mulia dan sangat wara’ (berhati-hati) Sufyan Ats Tsauri rahimahullah berkata, ”Tidaklah aku menyembuhkan sesuatu yang lebih sulit daripada niatku.” (Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim, dinukil dari Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 19)</p>
<p>Pada suatu ketika sampai berita kepada Imam Ahmad bahwa orang-orang mendoakan kebaikan untuknya, maka beliau berkata, ”Semoga saja, ini bukanlah bentuk istidraj (yang membuatku lupa diri).” (Siyar A’lamin Nubala’, dinukil dari Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 22)</p>
<p>Begitu pula ketika salah seorang muridnya mengabarkan pujian orang-orang kepada beliau, maka Imam Ahmad mengatakan kepada si murid, ”Wahai Abu Bakar. Apabila seseorang telah mengenali hakikat dirinya sendiri maka ucapan orang tidak akan berguna baginya.” (Siyar A’lamin Nubala’, dinukil dari Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 22)</p>
<p>Ad Daruquthni rahimahullah mengatakan, ”Pada awalnya kami menuntut ilmu bukan semata-mata karena Allah, akan tetapi ternyata ilmu enggan sehingga menyeret kami untuk ikhlas dalam belajar karena Allah.” (Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim, dinukil dari Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 20)</p>
<p>Asy Syathibi rahimahullah mengatakan, ”Penyakit hati yang paling terakhir menghinggapi hati orang-orang salih adalah suka mendapat kekuasaan dan gemar menonjolkan diri.” (Al I’tisham, dinukil dari Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 20)</p>
<p>Di dalam biografi Ayyub As Sikhtiyani disebutkan oleh Syu’bah bahwa Ayyub mengatakan, ”Aku sering disebut orang, namun aku tidak senang disebut-sebut.” (Siyar A’lamin Nubala’, dinukil dari Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 22)</p>
<p>Seorang ulama mengatakan, ”Orang yang benar-benar berakal adalah yang mengenali hakikat dirinya sendiri serta tidak terpedaya oleh pujian orang-orang yang tidak mengerti hakikat dirinya” (Dzail Thabaqat Hanabilah, dinukil dari Ma’alim fi Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 118)</p>
<p>Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, ”Tahun ibarat sebatang pohon sedangkan bulan-bulan adalah cabang-cabangnya, jam-jam adalah daun-daunnya dan hembusan nafas adalah buah-buahannya. Barang siapa yang pohonnya tumbuh di atas kemaksiatan maka buah yang dihasilkannya adalah hanzhal (buah yang pahit dan tidak enak dipandang, pent) sedangkan masa untuk memanen itu semua adalah ketika datangnya Yaumul Ma’aad (kari kiamat). Ketika dipanen barulah akan tampak dengan jelas buah yang manis dengan buah yang pahit. Ikhlas dan tauhid adalah ‘sebatang pohon’ di dalam hati yang cabang-cabangnya adalah amal-amal sedangkan buah-buahannya adalah baiknya kehidupan dunia dan surga yang penuh dengan kenikmatan di akherat. Sebagaimana buah-buahan di surga tidak akan akan habis dan tidak terlarang untuk dipetik maka buah dari tauhid dan keikhlasan di dunia pun seperti itu. Adapun syirik, kedustaan, dan riya’ adalah pohon yang tertanam di dalam hati yang buahnya di dunia adalah berupa rasa takut, kesedihan, gundah gulana, rasa sempit di dalam dada, dan gelapnya hati, dan buahnya di akherat nanti adalah berupa buah Zaqqum dan siksaan yang terus menerus. Allah telah menceritakan kedua macam pohon ini di dalam surat Ibrahim.” (Al Fawa’id, hal. 158).</p>
<p>Syaikh Prof. Dr. Ibrahim ar-Ruhaili hafizhahullah mengatakan, “Ikhlas dalam beramal karena Allah ta’ala merupakan rukun paling mendasar bagi setiap amal salih. Ia merupakan pondasi yang melandasi keabsahan dan diterimanya amal di sisi Allah ta’ala, sebagaimana halnya mutaba’ah (mengikuti tuntunan) dalam melakukan amal merupakan rukun kedua untuk semua amal salih yang diterima di sisi Allah.” (Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 49)</p>
<p><a rel="nofollow" href="http://abu0mushlih.wordpress.com/2008/12/25/ikhlaslah/#more-365" target="_blank"><span>http://abu0mushlih.wordpre</span><span>ss.com/2008/12/25/ikhlasla</span>h/#more-365</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamsuci.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamsuci.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamsuci.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamsuci.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamsuci.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamsuci.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamsuci.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamsuci.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamsuci.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamsuci.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamsuci.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamsuci.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamsuci.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamsuci.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamsuci.wordpress.com&amp;blog=8551750&amp;post=5&amp;subd=islamsuci&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamsuci.wordpress.com/2009/07/14/ikhlas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b4967719576f5fe3c2e8666c5dd654fb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mudha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jika ‘Kau Ingin Malaikat Mendoakanmu dalam Tidurmu&#8230;</title>
		<link>http://islamsuci.wordpress.com/2009/07/13/jika-%e2%80%98kau-ingin-malaikat-mendoakanmu-dalam-tidurmu/</link>
		<comments>http://islamsuci.wordpress.com/2009/07/13/jika-%e2%80%98kau-ingin-malaikat-mendoakanmu-dalam-tidurmu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jul 2009 10:04:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mudha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab Sehari-hari]]></category>
		<category><![CDATA[adab tidur]]></category>
		<category><![CDATA[ingin didoakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamsuci.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Pembaca mulia, Allah mewajibkan kita untuk beriman kepada malaikat bukanlah hal yang sia-sia. Apakah kita tidak ingin didoakan malaikat? Bagaimana tidak, malaikat adalah makhluk YANG DOANYA SELALU DIKABULKAN الله. Ini karena malaikat adalah makhluk yang tidak pernah mengatakan kecuali sizin الله, dan tidak pernah melakukan sesuatu kecuali dengan perintah الله. Hal yang harus kita ketahui, malaikat TIDAK MENDOAKAN ORANG, KECUALI ORANG YANG DIRIDHOI الله. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamsuci.wordpress.com&amp;blog=8551750&amp;post=10&amp;subd=islamsuci&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pembaca mulia, Allah mewajibkan kita untuk beriman kepada malaikat bukanlah hal yang sia-sia. Apakah kita tidak ingin didoakan malaikat? Bagaimana tidak, malaikat adalah makhluk YANG DOANYA SELALU DIKABULKAN الله. Ini karena malaikat adalah makhluk yang tidak pernah mengatakan kecuali sizin الله, dan tidak pernah melakukan sesuatu kecuali dengan perintah الله. Hal yang harus kita ketahui, malaikat TIDAK MENDOAKAN ORANG, KECUALI ORANG YANG DIRIDHOI الله. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:<span id="more-10"></span></p>
<p>لا يسبقونه بالقول وهم بأمره يعملون. يعلم ما بين أيديهم وما خلفهم ولا يشفعون إلا لمن ارتضى وهم من خشيته مشفقون</p>
<p>Artinya,</p>
<p>“&#8230; (malaikat-malaikat) itu adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan. Mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka. Mereka tidak memberi syafa’at MELAINKAN KEPADA ORANG-ORANG YANG DIRIDHOI ALLAH. Mereka itu selalu berhati-hati karena tajut kepada-Nya”<br />
(Q.S. Al-Anbiya’: 26-28)</p>
<p>Jika kedudukan para malaikat demikian mulia, siapakah di antara kita YANG TIDAK INGIN TERMASUK KE DALAM GOLONGAN ORANG YANG DIDOAKAN OLEH MEREKA?</p>
<p>Pembaca mulia, cara paling mudah agar bisa didoakan malaikat adalah bersuci terlebih dahulu sebelum tidur. Keutamaan orang yang bersuci sebelum tidur dapat diketahui dalam hadits berikut ini.</p>
<p>طهروا هذه الأجساد طهركم الله فإنه ليس عبد يبيت طاهرا إلا بات معه ملك في شعاره لا ينقلب ساعة من الليل إلا قال : اللهم اغفر لعبدك فإنه بات طاهرا</p>
<p>Sucikanlah badan-badan kalian! Semoga الله menyucikan kalian. Sesungguhnya tidaklah seorang hamba rumah bermalam (tidur) dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan bersamanya dalam pakaiannya. Tidaklah ia membalikkan badannya sesaat pun dalam tidur malamnya kecuali malaikat akan berkata, Ya الله , ampunilah hambamu ini. Sesungguhya ia tidur dalam keadaan suci.”</p>
<p>(lihat kitab المعجم الكبير, karya سليمان بن أحمد بن أيوب أبو القاسم الطبراني, tahqiq حمدي بن عبدالمجيد السلفي, juz 12, halaman 446, hadits nomor 13.621)</p>
<p>Beberapa Pelajaran yang Dapat Kita Ambil dari hadits di Atas:<br />
1)	Anjuran untuk bersuci sebelum tidur.<br />
2) Rasulullah mendoakan umatnya yang bersuci sebelum tidur agar disucikan الله. Siapa yang tidak ingin mendapat bagian doa sebik-baik manusia, Rasulullah صلى الله عليه و سلم ?<br />
3)	Malaikat senantiasa akan bersama dengan orang yang tidur, jika sebelum tidur, ia bersuci terlebih dahulu.<br />
4) Malaikat akan memohon kepada الله agar mengampuni hamba yang tidur tersebut, setiap ia membalikkan badannya di malam hari hingga ia bangun dari tidurnya.</p>
<p>Allahu Akbar! Bukankah bersuci merupakan amal yang sangat mudah wahai saudaraku? Mudah, tetapi balasannya sangatlah besar. Seandainya balasan untuk orang yang tidur dalam keadaan suci hanyalah ditemani malaikat, itu sebenarnya sudah cukup. Akan tetapi, الله memberi balasan yang jauh lebih baik.</p>
<p>Dalam riwayat yang lain, Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda:</p>
<p>ما من مسلم يبيت على ذكر الله طاهرا فيتعار من الليل فيسأل الله خيرا من الدنيا والآخرة الا أعطاه اياه</p>
<p>Artinya:</p>
<p>“Tidaklah seorang muslim yang bermalam (tidur) dalam keadaan berdzikir kepada الله dan suci, lalu ia bangun di malam itu kemudian berdoa kepada الله kebaikan dunia dan akhirat, kecuali الله akan mengabulkan doanya tersebut.”</p>
<p>(lihat kitab المعجم الكبير, karya سليمان بن أحمد بن أيوب أبو القاسم الطبراني, tahqiq حمدي بن عبدالمجيد السلفي, jilid 20, halaman 118, hadits nomor 235)</p>
<p>Dari hadits di atas, kita dapat memeproleh faidah tambahan, yaitu keutamaan yang akan kita peroleh apabila tidur kita, diawali dengan dzikir dan bersuci, yaitu dua hal tersebut akan menjadi SEBAB DIKABULKANNYA DOA kita oleh الله. Perhatikanlah wahai pembaca, yang memberitakan hal ini adalah seorang jujur yang tepercaya, yaitu Rasulullah صلى الله عليه و سلم. Maka, apakah kita masih akan ragu untuk mengamalkan apa yang beliau sunnahkan?</p>
<p>Semoga الله menjadikan kita semua sebagai hamba-Nya yang senantiasa dimudahkan untuk mengamalkan sunnah nabi-Nya yang mudah dan penuh barokah ini. Kabulkanlah wahai Rabb yang Maha Agung lagi Maha Mulia. آمين</p>
<p>Referensi:<br />
1) المعجم الكبير /Mu’jamul Kabir/, jilid 12 dan 20. سليمان بن أحمد بن أيوب أبو القاسم الطبراني /Sulaiman ibn Ahmad ibn Ayyub Abul Qasim AT-THABRANI/, dengan tahqiq: حمدي بن عبدالمجيد السلفي /Hamdi ibn Abdil Majid As-Salafi/. 1404H/1983M. الموصل /Mosul/: مكتبة العلوم والحكم /Maktabah Al’Ulum wal Hikam/.</p>
<p>2) Orang-Orang yang Didoakan Malaikat, terjemah dari من تصلي عليهم الملائكة و من تلعنه. Dr. Fadhl Ilahi, penerjemah: Beni Sarbeni. 1420H-2000M. Bogor: Pustaka Ibnu Katsir, dari penerbit aslinya: Idaarah Turjumaan Al-Islami-Pakistan.</p>
<p>Masjid Al-‘Ashri lantai II,<br />
Sabtu, 19/07/1430 – 11/07/2009, pukul 21.45<br />
Abu Muhammad Al-‘Ashri</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamsuci.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamsuci.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamsuci.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamsuci.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamsuci.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamsuci.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamsuci.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamsuci.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamsuci.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamsuci.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamsuci.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamsuci.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamsuci.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamsuci.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamsuci.wordpress.com&amp;blog=8551750&amp;post=10&amp;subd=islamsuci&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamsuci.wordpress.com/2009/07/13/jika-%e2%80%98kau-ingin-malaikat-mendoakanmu-dalam-tidurmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b4967719576f5fe3c2e8666c5dd654fb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mudha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Meneropong ke dalam Hati</title>
		<link>http://islamsuci.wordpress.com/2009/07/13/meneropong-ke-dalam-hati/</link>
		<comments>http://islamsuci.wordpress.com/2009/07/13/meneropong-ke-dalam-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jul 2009 10:00:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mudha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penyujian Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[halal dan haram]]></category>
		<category><![CDATA[perbaiki hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamsuci.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya perkara yang halal itu jelas, dan perkara yang haram juga jelas. Dan di antara keduanya terdapat hal-hal yang samar dan meragukan. Banyak orang yang tidak mengetahuinya. Barangsiapa yang menjaga dirinya dari hal-hal yang samar dan meragukan itu maka niscaya akan terpelihara agama dan harga dirinya. Dan barangsiapa yang nekad menerjang hal-hal yang samar dan meragukan itu maka dia terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana halnya seorang penggembala yang menggembalakan hewannya di sekitar daerah larangan, hampir-hampir saja dia memasukinya. Ingatlah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila daging itu baik maka baiklah seluruh anggota badan. Dan apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh anggota badan. Ketahuilah segumpal daging itu adalah jantung.” (HR. Bukhari [52] dan Muslim [1599]).<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamsuci.wordpress.com&amp;blog=8551750&amp;post=7&amp;subd=islamsuci&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diriwayatkan dari Abu Abdillah An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya perkara yang halal itu jelas, dan perkara yang haram juga jelas. Dan di antara keduanya terdapat hal-hal yang samar dan meragukan. Banyak orang yang tidak mengetahuinya. Barangsiapa yang menjaga dirinya dari hal-hal yang samar dan meragukan itu maka niscaya akan terpelihara agama dan harga dirinya. Dan barangsiapa yang nekad menerjang hal-hal yang samar dan meragukan itu maka dia terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana halnya seorang penggembala yang menggembalakan hewannya di sekitar daerah larangan, hampir-hampir saja dia memasukinya. Ingatlah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila daging itu baik maka baiklah seluruh anggota badan. Dan apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh anggota badan. Ketahuilah segumpal daging itu adalah jantung.” (HR. Bukhari [52] dan Muslim [1599]).<span id="more-7"></span></p>
<p>Pentingnya memperbaiki hati<br />
Di dalam hadits yang agung ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perumpamaan pentingnya hati bagi amal perbuatan sebagaimana peranan jantung bagi anggota badan. Jantung memompa darah ke seluruh tubuh sehingga sangat menentukan kesehatan badan, sebagaimana halnya baiknya hati sangat menentukan baiknya amal perbuatan. Maka hadits di atas merupakan rujukan dalam masalah agama dan juga dalam masalah medis/pengobatan (faidah ini kami petik dari rekaman ceramah Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili hafizhahullah berjudul Atsarul ‘aqidah ‘alal istiqamah). Ketika mengomentari bagian akhir hadits di atas, Ibnu Rajab ¬rahimahullah mengatakan, “Di dalam hadits ini terdapat isyarat yang menunjukkan bahwa kebaikan gerak-gerik hamba dengan anggota badannya, kemampuannya menjauhi perkara-perkara yang diharamkan, dan keteguhannya dalam menjaga diri dari hal-hal yang syubhat/samar bergantung pada kebaikan gerak-gerik hatinya…” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Makt. Syamilah).</p>
<p>Hati yang hidup, mati, dan sakit<br />
Untuk memperjelas hal ini, marilah kita simak penuturan Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullah berikut ini. Beliau mengatakan (Syarh Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah, tahqiq Al-Albani, hal. 274-275), “Ketahuilah, sesungguhnya hati bisa hidup dan bisa mati, bisa sakit dan bisa sehat. Hati merupakan unsur (non-fisik) yang paling agung di dalam tubuh. Allah ta’ala berfirman (yang artinya, “Apakah sama antara orang yang dahulunya mati kemudian Kami hidupkan dan Kami jadikan baginya cahaya untuk berjalan di antara manusia, dengan orang yang senasib dengannya namun tetap terkungkung di dalam kegelapan dan tidak bisa keluar darinya.” (QS. Al-An’aam : 122). Maksudnya orang tersebut sebelumnya mati karena tenggelam dalam kekafiran, kemudian Kami (Allah) pun menghidupkan jiwanya dengan iman.”</p>
<p>Beliau melanjutkan, “Hati yang sehat dan hidup apabila disodori kebatilan dan perkara-perkara yang buruk maka nalurinya akan mendorong untuk menjauhi hal itu dan membencinya serta tidak mau memperhatikannya. Berbeda keadaannya dengan hati yang mati. Hati yang mati tidak mampu membedakan baik dan buruk. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, “Celakalah orang yang tidak memiliki hati yang dapat mengenal perkara ma’ruf dan mungkar.” Begitu pula halnya hati yang sakit karena terjangkit syahwat. Maka hati (yang sakit) semacam itu -karena kelemahannya- akan condong kepada kebatilan dan keburukan yang disodorkan kepadanya bergantung pada kuat-lemahnya penyakit tersebut.” (hal. 275)</p>
<p>Dua macam penyakit hati<br />
Kemudian Ibnu Abil ‘Izz rahimahullah memaparkan, “Penyakit hati ada dua macam, sebagaimana yang telah disinggung di depan : penyakit syahwat (keinginan yang terlarang) dan penyakit syubhat (penyimpangan cara berpikir). Penyakit yang paling buruk di antara keduanya adalah syubhat, dan syubhat yang paling buruk adalah yang terkait dengan masalah takdir. Terkadang hati itu menderita sakit dan semakin bertambah parah namun orangnya tidak menyadari hal itu. Hal itu bisa saja terjadi karena dia tidak mau mengenali hakikat kesehatan hatinya dan sebab-sebab untuk menjagaya. Bahkan terkadang hati seseorang mati namun dia tidak menyadari kematiannya. Ciri yang menunjukkan keadaan itu adalah tatkala [1] dosa yang timbul akibat melakukan perbuatan buruk/maksiat tidak bisa lagi membuat hatinya terluka, begitu pula [2] ketika kebodohannya terhadap kebenaran dan ketidak mengertiannya mengenai aqidah yang keliru sudah tidak terasa menyakitkan baginya. Sebab apabila hati masih hidup tentu akan bisa merasakan sakit karena mengalirnya sesuatu yang buruk (dosa) kepadanya, dan merasa sedih dan terluka akibat kebodohan dirinya terhadap kebenaran, dan besarnya rasa sakit itu bergantung pada kadar kehidupan yang ada padanya. (Sebagaimana dikatakan oleh penyair), “Luka yang bersarang di tubuh mayit, tentu tidak lagi menyakitinya.”.” (hal. 275)</p>
<p>Tidak mengamalkan ilmu, sebab hati menjadi keras<br />
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Disebabkan tindakan (ahli kitab) membatalkan ikatan perjanjian mereka, maka Kami pun melaknat mereka, dan Kami jadikan keras hati mereka. Mereka menyelewengkan kata-kata (ayat-ayat) dari tempat (makna) yang semestinya, dan mereka juga telah melupakan sebagian besar peringatan yang diberikan kepadanya.” (QS. Al-Maa’idah : 13).<br />
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa kerasnya hati ini termasuk hukuman paling parah yang menimpa manusia (akibat dosanya). Ayat-ayat dan peringatan tidak lagi bermanfaat baginya. Dia tidak merasa takut melakukan kejelekan, dan tidak terpacu melakukan kebaikan, sehingga petunjuk (ilmu) yang sampai kepadanya bukannya menambah baik justru semakin menambah buruk keadaannya (lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 225)</p>
<p>Berjuang melawan penyakit<br />
Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullah mengatakan dalam Syarahnya, “Terkadang orang merasakan penyakit yang bersarang di dalam hatinya, namun dia mau menahan rasa pahit yang sangat karena menelan obat dan berusaha tetap sabar untuk menyembuhkan dirinya. Maka dia lebih menyukai merasa sakit karena proses pengobatan yang harus dijalaninya begitu susah (daripada membiarkan penyakitnya terus menjalar). Sesungguhnya obat untuk penyakit hati adalah dengan berjuang menyelisihi hawa nafsu. Padahal perkara itu -menyelisihi nafsu- adalah sesuatu yang sangat sulit dan berat bagi jiwa manusia. Namun, memang tidak ada obat lain yang lebih manjur daripada obat itu. Terkadang, ketika berusaha untuk melatih jiwanya untuk sabar kemudian ternyata tekadnya memudar di tengah jalan sehingga hal itu membuatnya tidak mau lagi bertahan; karena begitu lemah ilmu, keyakinan, dan kesabaran dirinya. Hal itu sebagaimana halnya orang yang berusaha menempuh suatu jalan menuju daerah yang aman namun jalan itu diliputi dengan hal-hal yang menakutkan. Padahal si penempuh jalan itu pun menyadari bahwa apabila dia mau bersabar niscaya rasa takut itu akan lenyap dan berakhir dengan rasa aman. Untuk itulah dia memerlukan kekuatan sabar dan keyakinan yang kokoh terhadap tujuan yang akan dicapai. Kapan saja sabar dan keyakinannya melemah, maka dia akan berputar haluan meninggalkan jalan itu dan tidak mau repot-repot merasakan beratnya kesulitan yang ada di sana. Apalagi jika tidak ada teman (baik) yang menyertainya sehingga dia merasa gentar berjalan sendirian (di atas kebenaran), maka dia pun mengeluh, “Di manakah orang-orang (baik) itu, di saat aku membutuhkan mereka; sehingga aku bisa meniru mereka!”. Inilah keadaan yang menimpa kebanyakan orang, dan itulah penyebab kehancuran mereka. Sesungguhnya orang yang benar-benar sabar dan tulus tidak akan merasa gentar hanya karena sedikitnya teman ataupun karena kehilangan kawan; hal ini akan bisa dia rasakan ketika hatinya senantiasa merasakan kebersamaan (persahabatan) dengan generasi yang pertama, yaitu (sebagaimana makna firman Allah), “Orang-orang yang diberikan kenikmatan oleh Allah yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada’ dan orang-orang salih. Mereka itulah sebaik-baik teman.” (QS. An-Nisaa’ : 69)….” (hal. 275)</p>
<p>Beliau kembali menuturkan, “Tanda sakitnya hati adalah ketika dia berpaling dari mengkonsumsi asupan gizi yang bermanfaat dan cocok (bagi kesehatan hatinya) menuju asupan-asupan yang berbahaya, serta ketika dia berpaling meninggalkan obat yang manjur kepada obat yang membahayakannya. Maka di sini ada empat perkara : [1] asupan yang bermanfaat, [2] obat yang menyembuhkan, [3] asupan yang membahayakan, dan [4] obat yang membinasakan. Hati yang sehat akan memilih sesuatu yang bermanfaat dan menyembuhkan daripada sesuatu yang berbahaya dan menyakiti. Sedangkan hati yang sakit justru sebaliknya. Asupan paling bermanfaat adalah asupan iman, sedangkan obat paling bermanfaat adalah obat Al-Qur’an, dan masing-masing dari keduanya (iman dan Al-Qur’an) juga menyimpan asupan sekaligus obat. Sehingga orang yang menginginkan kesembuhan dengan selain (bimbingan) Al-Kitab dan As-Sunnah, maka dia tergolong ajhalul jaahiliin (orang yang paling bodoh) dan termasuk deretan adhalludh dhaalliin (orang yang paling sesat)…” (hal. 276).</p>
<p><strong>Penulis</strong>: Ari Wahyudi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamsuci.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamsuci.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamsuci.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamsuci.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamsuci.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamsuci.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamsuci.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamsuci.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamsuci.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamsuci.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamsuci.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamsuci.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamsuci.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamsuci.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamsuci.wordpress.com&amp;blog=8551750&amp;post=7&amp;subd=islamsuci&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamsuci.wordpress.com/2009/07/13/meneropong-ke-dalam-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b4967719576f5fe3c2e8666c5dd654fb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mudha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cinta</title>
		<link>http://islamsuci.wordpress.com/2009/07/13/cinta/</link>
		<comments>http://islamsuci.wordpress.com/2009/07/13/cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jul 2009 09:26:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mudha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penyujian Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamsuci.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Pokok dari tauhid dan ruhnya adalah memurnikan cinta hanya kepada Allah semata. Ia merupakan sumber penghambaan dan ketundukan diri kepada-Nya. Bahkan ia merupakan intisari dari hakikat ibadah. Tauhid pada diri seseorang tidak akan sempurna kecuali dengan menyempurnakan cintanya kepada Rabbnya. Kecintaan kepada-Nya mendahului kecintaannya kepada segala sesuatu dan mengalahkan itu semua, sehingga dia akan menimbang segala bentuk kecintaannya kepada apa saja dengan menundukkannya terhadap kecintaan kepada-Nya, yang dengan cinta itulah kebahagiaan hamba dan keberuntungannya akan sempurna.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamsuci.wordpress.com&amp;blog=8551750&amp;post=3&amp;subd=islamsuci&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Biografi Syaikh Nashir as-Sa'di" href="http://haulasyiah.wordpress.com/2009/05/14/biografi-asy-syaikh-abdurrahman-bin-nashir-as-sa%e2%80%99di/" target="_blank">Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di</a> rahimahullah mengatakan :</p>
<blockquote><p>Pokok dari tauhid dan ruhnya adalah memurnikan cinta hanya kepada Allah semata. Ia merupakan sumber penghambaan dan ketundukan diri kepada-Nya. Bahkan ia merupakan intisari dari hakikat ibadah. Tauhid pada diri seseorang tidak akan sempurna kecuali dengan menyempurnakan cintanya kepada Rabbnya. Kecintaan kepada-Nya mendahului kecintaannya kepada segala sesuatu dan mengalahkan itu semua, sehingga dia akan menimbang segala bentuk kecintaannya kepada apa saja dengan menundukkannya terhadap kecintaan kepada-Nya, yang dengan cinta itulah kebahagiaan hamba dan keberuntungannya akan sempurna.<span id="more-3"></span></p></blockquote>
<p>Salah satu unsur yang melengkapi kecintaan tersebut adalah kecintaan fillah; yaitu tatkala seorang hamba mencintai amal dan orang-orang yang Allah cintai, demikian pula dia akan membenci amal atau orang-orang yang dibenci Allah. Dia akan membela wali-wali-Nya dan memusuhi musuh-musuh-Nya, dengan seperti itulah iman dan tauhid pada diri seorang hamba akan menjadi lengkap dan sempurna.</p>
<p>Adapun perbuatan mengangkat makhluk sebagai sekutu dalam hal cinta; di mana dia mencintai mereka sebagaimana cinta kepada Allah dan lebih mendahulukan ketaatan kepada mereka di atas ketaatan kepada Allah, merasa mendapatkan ketetapan hati dan ketenangan dengan mengingat mereka (pujaan selain Allah) dan berdoa kepada mereka. Maka perbuatan ini adalah tergolong syirik besar. Sebuah dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah. Hati dari orang yang melakukan kesyirikan ini pun telah terputus dari petolongan dan perlindungan Dzat Yang Maha perkasa lagi Maha terpuji. Bahkan hatinya selalu bergantung dan bersandar kepada selain Allah, padahal sesuatu itu tidak menguasai apa pun untuknya. Perantara yang lemah ini dan dijadikan oleh orang-orang musyrik sebagai tempat bergantung dan menyandarkan hati mereka –kepada selain Allah- maka pada hari kiamat kelak [jalinan kasih sayang] itu akan lenyap dan terputus; padahal ketika itu dia sedang berada dalam kondisi paling membutuhkan [pahala] amalnya, pada saat itu kecintaan ini justru berubah menjadi kebencian dan permusuhan.</p>
<p>Perlu diketahui bahwa, kategori cinta itu ada tiga macam :<br />
Pertama, cinta kepada Allah yang hal itu menjadi pokok keimanan dan sumber tauhid<br />
Kedua, cinta fillah [cinta karena Allah] yaitu cinta kepada para nabi Allah, rasul-rasul-Nya dan para pengikut mereka, cinta kepada amal, tempat-tempat atau hal lain yang dicintai Allah. Cinta ini mengikuti kecintaan kepada Allah dan penyempurna baginya.<br />
Ketiga, cinta ma’allah [mencintai sekutu selain Allah], itu merupakan cintanya orang-orang musyrik kepada pujaan dan sesembahan mereka yang berujud pohon, batu, manusia, malaikat atau yang lainnya. Maka kecintaan semacam itu adalah pokok kesyirikan dan asasnya.<br />
Di sana terdapat jenis cinta yang keempat yaitu; cinta yang sudah menjadi naluri manusia terhadap hal-hal yang disenangi dan dirasa cocok oleh jiwanya berupa makanan, minuman, pernikahan, pakaian, pergaulan, dan lain sebagainya. Cinta jenis ini, meskipun pada asalnya mubah namun apabila ia menjadi sarana yang membantu untuk mewujudkan kecintaan kepada Allah dan merealisisasikan ketundukan/ketaatan kepada-Nya, maka ia termasuk dalam cakupan ibadah. Akan tetapi apabila justru memalingkan orang dari hal itu dan memerantarai menuju perkara-perkara yang tidak disenangi oleh Allah, maka ia pun akan termasuk dalam cakupan hal yang terlarang. Dan kalau misalnya tidak ada kaitan dengan kedua tujuan di atas (mewujudkan sesuatu yang dicintai Allah atau dibenci-Nya), maka cinta seperti itu akan tetap berada pada status hukum asalnya yaitu tergolong perkara yang dibolehkan/mubah. Wallahu a’lam.</p>
<p>Sekian keterangan beliau.Diterjemahkan secara bebas dari Al-Qaul As-Sadid, hal. 95-97.<br />
Maktabah Al-‘Ilmu Jeddah, 1411 H</p>
<p>Faedah<br />
Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah mengatakan [Fath Al-Majid, 312] :</p>
<p>Salah satu tanda kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya adalah dengan mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci apa yang Dia benci sebagaimana Allah membencinya. Dia akan lebih mengutamakan keridhaan Allah di atas segala sesuatu selainnya. Dia akan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai apa yang membuat Allah ridha. Dia akan menjauhi apa yang diharamkan Allah dan dia akan membencinya dengan amat sangat. Dia akan mengikuti ajaran rasul-Nya, melaksanakan perintahnya dan meninggalkan larangannya. Hal itu sebagaimana difirmankan Allah ta’ala (yang artinya), “Barangsiapa yang taat kepada rasul itu maka sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.” (QS. An-Nisaa’ : 80).</p>
<p>Oleh sebab itu barangsiapa yang mendahulukan perintah selainnya [selain rasul] di atas perintah beliau dan menyelisihi apa yang dilarangnya, maka itu adalah tanda ketiadaan cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Karena kecintaan kepada rasul itu sesungguhnya merupakan konsekuensi kecintaan kepada Allah. Barangsiapa cinta kepada Allah dan menaatinya, niscaya dia juga akan mencintai rasul dan menaatinya. Adapun orang yang tidak demikian [tidak cinta kepada Allah], maka hal itu juga tidak akan dia lakukan [menaati rasul-Nya]…</p>
<p><a rel="nofollow" href="http://abu0mushlih.wordpress.com/2008/12/17/tuluskah-cintamu-pada-nya/#more-325" target="_blank"><span>http://abu0mushlih.wordpre</span><span>ss.com/2008/12/17/tuluskah</span><span>-cintamu-pada-nya/#more-32</span>5</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamsuci.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamsuci.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamsuci.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamsuci.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamsuci.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamsuci.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamsuci.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamsuci.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamsuci.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamsuci.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamsuci.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamsuci.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamsuci.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamsuci.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamsuci.wordpress.com&amp;blog=8551750&amp;post=3&amp;subd=islamsuci&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamsuci.wordpress.com/2009/07/13/cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b4967719576f5fe3c2e8666c5dd654fb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mudha</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
